Diberdayakan oleh Blogger.
Free Hello Kitty ani Cursors at www.totallyfreecursors.com

Kamis, 04 Februari 2016

Surat untuk Langit Cerah



Untuk langit yang cerah, dengarkan lah aku berkisah. Aku punya rasa, rasa rindu yang berkepanjangan, yang telah di diagnosis oleh dokter bahwa rasa rindu ini tak akan pernah sembuh kecuali dilampiaskan lewat sebuah pertemuan, dengan siapa? Tentu dengannya. Jika waktu yang kulalui bersama rindu ini bisa aku tukarkan dengan materi maka mungkin aku akan penuh akan harta, namun tetap tak bahagia.
Apapun tentangnya terasa begitu menyilaukan. Mendekatinya saja buat aku gemetaran. Menatap ia yang sedang tersenyum mampu buat hati jadi tak karuan. Melihat tawa lepasnya buat tubuh ini seolah mau pingsan. Ahh… jika membahas tentangnya aku tidak pernah tak berlebihan.
Jika aku mengingat tentangnya, bawaanku ingin langsung merayu. Merangkai jutaan kata puitis untuk menjelaskan kepadanya bagaimana hati ini tertarik seolah magnet. Mengingatnya dan membayangkan apapun hal manis membuat perut seolah dipenuhi kupu-kupu. Menggelikan namun menyenangkan.
Semakin hari rasanya aku semakin berubah. Aku tak lagi di dunia yang nyata. Seolah terperosok ke dalam sebuah drama roman picisan yang mengesankan. Aku dibuatnya jatuh sejatuh jatuhnya, hingga aku sulit bangun, bahkan tak ada yang bisa menolong. Ku nikmati jatuh ini. Jatuh yang ku beri nama jatuh hati.
Langit, menurutku dia lebih dari narkotika yang mampu membuatku candu, lalu candu itu berubah menjadi obsesi, yang memaksaku untuk memilikinya seutuhnya. Rasa-rasanya aku ingin selalu berada di dekatnya walau mungkin aku akan gemetaran, mungkin hatiku jadi tak karuan hingga tubuhku terjatuh pingsan, bagiku tak masalah asal di dekatnya.
Canduku, Obsesiku, Sayangku, tetaplah kau menjadi sebuah titik yang selalu aku puja. Tetaplah kau menjadi alasanku untuk merangkai diksi menjadi sebuah surat cinta yang isinya hanya tentangmu. Kau adalah sesuatu yang selalu aku semogakan.




Dari Aku si perusak kata
Di saat angin menerpa kulit
Kamis, 04 Februari 2016
 
Read more...
separador

Rabu, 03 Februari 2016

Surat dari yang Bisu akan Rasa









Untuk kau yang tidak pernah tahu atau tidak mau tahu, terima kasih telah mengajariku menggunakan pena untuk menulis aksara penuh diksi-diksi, kata mereka ini manis, menurutku ini tragis, terlebih bila tak akan pernah ada gunanya untukmu.

Di luar kamar, air hujan menitik. Kemudian ia mengeluarkan aroma tanah yang basah. Di sini, air mata menitik, lalu mengeluarkan aroma hati yang patah. Aku berusaha tenang walau hati meraucau sebabmu. Otakku memaksa untuk lupa tapi hatiku tak pernah ingin lupa. Hatiku bilang menunggu itu romantis, kemudian otak berteriak bahwa menunggu hanya akan berakhir tragis.

Ketika lisanku diam seribu bahasa, bukan berarti aku tak peduli akan rasa. Ribuan aksara tercipta oleh ku dengan kau sebagai pemeran utamanya. Jangan pikir aku suka puisi, jangan anggap aku pintar merangkai diksi, ini tercipta sebabmu saja. Jadi lah aku sang penulis yang selalu ingin menulis tentangmu walau kau mungkin tak pernah membaca.

Kau buat aku bermetamorfosis, mengubah tubuhku menjadi kata-kata, lalu pikiranku yang kau penuhi dengan belantara metafora, oksigenku kau ganti dengan diksi, kemudian kau berubah menjadi kalimat-kalimat yang aku ceritakan setiap hari. Ku harap seluruh kalimat ini mampu mendekap sehangat pelukan yang panjang.

Sudah berjuta akrasa aku persembahkan untukmu. Entah ada berapa banyak bagian kalimat yang disebabkan olehmu. Apalagi yang akan aku tulis tentang rasa ini? Jawabannya hanya tentang rasa padamu lagi dan lagi. Jangan kau tanya bagaimana rasanya, aku tak bisa mengungkapkan apapun. Aku bisu akan rasa, ku harap kau tak buta tentang rasa, atau setidaknya jangan buta aksara, agar kau mampu baca rasaku lewat setiap kalimat yang ku rangkai, karena kau tahu aku bisu jika kau suruh mengungkapkannya.

Ku mohon jangan buta, karena aksara tak bisa di raba, dan aku tak mampu bicara jika itu tentang rasa. Ku mohon lihatlah dengan matamu, buat rasamu juga bekerja. Jangan biarkan hatiku jatuh sejengkal lebih dalam dari samudra sementara hatimu tidak, maafkan keegoisanku, tapi aku tak kuat memiliki rasa satu arah.  





Dari aku si perusak kata
Di kala langit sedang mendung
Rabu, 03 Februari 2016
Read more...
separador

Selasa, 02 Februari 2016

Gadis dan Penantian








Teruntuk siapapun yang mau membaca, inginku ceritakan sebuah kisah. Alkisah seorang gadis bodoh di sebuah dunia yang fana. Angannya tinggi, tingkah lakunya tak ubah selain duduk terpaku menunggu datangnya seorang pangeran.

Kemudian, kau tahu? Tentu tidak, karena aku belum bercerita lagi. Tawa gadis itu selalu lepas, tapi laranya dia biarkan mendekam di dalam hati. Tak ada yang peduli pada hadirnya ia, keluguannya membuat orang-orang segan untuk duduk lebih lama bersamanya.

Menunggu dalam kehampaan, gadis itu ditemani oleh segala kenistaan. Ada saat dimana hatinya gelisah, namun ia pasrah, apa daya-nya jika sukma itu tak kunjung ingin beranjak.Potret senyum pangeran yang ia nanti kembali datang menghampiri. Andai sang pangeran sadar bahwa gadis itu telah dibuatnya gelisah dalam harap yang menguap.

Ia menatap bunga pagi ini kuncup, kemudian esok lagi, hingga sepekan dan menjadi layu. Ia menatap ke atas, melihat senja dibalut oleh si jingga kemudian berganti malam dengan sang rembulan. Semuanya tentu berubah namun tidak pada rasanya, ia masih menunggu datangnya seorang pangeran, tidakkah ia tahu bahwa apa yang ia tunggu itu semu?

Gadis itu bingung mengapa semuanya berubah kecuali perasaannya? Atau ia percaya bahwa semuanya kelak akan berubah, begitu pula dengan penantiannya? Entahlah, aku tak pernah tahu isi kepala gadis itu, walau gadis itu adalah aku.


Aku si Perusak Kata
Kala senja di balut jingga
Selasa, 02 Februari 2016
05:39 PM
Read more...
separador

Korek Api & Api yang Menari









Kepada beberapa korek api yang belum ku hitung jumlahnya dan yang ada di dalam kotak, namanya kotak korek api. Aku ingin katakana bahwa aku punya begitu banyak teman, namun kadang aku ragu untuk terus menerus bercerita pada mereka. Aku takut mereka akan bosan tentunya mendengar ceritaku yang itu-itu saja. Nyatanya aku juga bosan menceritakan yang itu-itu saja namun hatiku senang, bibirku tersenyum riang setiap membicarakannya.

Aku ingin bicara padamu tentangnya, sekali ini saja. Agar teman-temanku tidak bosan mendengar ceritaku yang itu-itu melulu pikir mereka, namun tak mereka ucapkan. Aku bisa tebak pasti mereka segan dan takut aku kecewa karena tidak didengarkan. Mungkin telinga mereka telah panas mendengar ceritanya tentang dia.

Dia itu begini

Dia itu begitu

Dia sukanya ini

Dia paling malas kalau disuruh itu

Korek api? Kau masih dengarkan aku berbicarakan? Aku tahu kau tak akan dapat dengarkan ceritaku, sebab kau tak punya telinga. Namun biarkan aku bercerita sendiri. Korek api? Kau kecil, kau ramping, kau rapuh, terlebih jika terkena api. Kau tidak akan kenapa-napa kecuali tersundut api.

Korek api? Jika kau berdekatan dengan api yang sedang menari maka kau dengan mudah terbakar sendirian kemudian menjadi abu. Abu yang tidak akan diperdulikan, dan abu yang hanya akan menatap lurus sang api yang masih tetap menari. Korek Api? Kau seperti aku.

Mengapa begitu? Biar aku jelaskan padamu wahai korek api. Hingga kina aku tak apa-apa jika berdekatan pada siapapun, kecuali ketika aku dekat padanya yang bisa kau perkirakan seolah api. Aku amat mudah terbakar gelora asmara namun sendirian, gelora asmara itu membakar aku sendiri tanpa dia. Dan semua hanya menyisahkan aku yang tak berguna, yang hanya mampu menatapnya yang masih riang disana layaknya api yang sedang menari. Korek api? Aku tak ingin sepertimu.

Read more...
separador

Senin, 01 Februari 2016

Aksara Rasa










Kepada kamu yang ditakdirkan untuk aku cintai saat ini, maafkan jemariku yang dengan lancang menulis tentangmu, maafkan hatiku yang selalu menyukaimu, maafkan otakku yang selalu memikirkanmu, maafkan bibirku yang selalu riang gembira menyebut namamu, maafkan mataku yang selalu mencari-cari keberadaanmu, maafkan telingaku yang selalu ingin tahu kabarmu.

Tahukah kau bahwa aku jenuh membisu tentang rasa, sekarang setidaknya aku bisa bicara lewat aksara. Aku tak berharap banyak, tidak berharap kau memperhatikanku, tidak berharap kau iba atas aku, bahkan aku tidak begitu berharap kau membaca surat-suratku. Maafkan kelancanganku dan aksaraku yang mungkin akan mengganggumu lewat suratku yang pertama hingga seterusnya.

Aku masih ingat dulu, dulu sekali kau pinta aku untuk membuatkan surat cinta padamu, lalu apalagi ya? Tak perlu kau jawab, aku masih ingat setelah itu aku jawab 'iya', namun dengan seribu satu alasan yang berusaha kau patahkan. Sekarang tagihlah jawabanku itu, kau boleh menagihnya jika kau ingin. Jika pun kau tak ingin menagihnya maka akan tetap aku bayar, bukan karena aku merasa memiliki hutang surat padamu, tapi aku rasa ini kebutuhanku. 

Aku butuh akan membuat surat-surat ini karena hanya lewat aksara-aksara di dalam surat ini aku mampu jelaskan padamu bagaimana rasaku dan kabar hatiku sekarang. Bagiku kau sangat berarti, aku selalu ingin kau ada disini walau aku tahu keinginanku itu tak akan pernah kau kabulkan. Kau butuh tahu bahwa tak akan mungkin pernah ada yang lain di sisiku. Ahh… jika kau pikir aku berlebihan maka itu terserahmu, aku tak peduli, biarkan aku dengan seluruh rasaku.

Sekali lagi maafkan segala kelancangan jemariku, yang terus menerus menuliskan banyak aksara tentangmu dalam surat tanpa kertas ini. Maafkan aku. Aku masih mencintaimu.



Read more...
separador